cool hit counter

PDM Kabupaten Kediri - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Kediri
.: Home > Berita > Dinantikan Warga Muhammadiyah di Desa Ini

Homepage

Dinantikan Warga Muhammadiyah di Desa Ini

Kamis, 28-12-2017
Dibaca: 370

M Sulaiman Teguh, selain membaca Suara Muhammadiyah, juga mendengarkan Radio MTA. (Ria Eka Lestari/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kebutuhan dakwah Muhammadiyah di kota dan desa ternyata berbeda. Meski sama-sama membutuhkan media elektronik, tapi jenis media yang dirasa efektif tidak sama.

Seperti yang dialami warga Muhammadiyah di Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan Menden, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Bendahara Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kradenan Menden Jamingan SAg mengaku warga Muhammadiyah di Mojorembun selalu mengikuti program radio Majelis Tafsir Al Quran (MTA).

“Kalau di sini ya patner. Antara Muhammadiyah dan MTA itu guyub. Asal baik ya kita ikuti,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (26/12/17).

Jamingan menyampaikan warga Muhammadiyah itu berwawasan luas sehingga terbuka dengan segala hal asalkan sesuai dengan Alquran dan Hadist.

“Nah MTA itu kan sama juga. Sesuai Al Quran dan Sunnah. Di radio itu menariknya karena MTA selalu mengkaji isi Alquran dan Sunnah itu,” ujarnya.

“Saya kalau mbaca terjemahan Alquran itu nggak paham. Lha kalau dengerin MTA itu baru paham. Karena tafsirnya per kata,” sambung dia.

Pria usia 58 tahun ini menjelaskan bahwa warga Muhammadiyah Mojorembun juga mengikuti TVMU (Televisi Muhammadiyah).

“Saya juga lihat TVMU. Tapi juga lihat MTA TV. Ada program yang tidak di TVMU tapi ada di MTA TV. Misalnya tanya jawab masalah sehari-hari dan belajar mengaji lengkap dengan tajwidnya. Kalau TVMU sekadar pengajian umum, jadi kurang detail,” paparnya.

Jamingan saat diwawancarai di rumahnya. (Ria Eka Lestari/PWMU.CO)

Kepada PWMU.CO, pria kelahiran 1959 itu menceritakan mengapa warga Muhammadiyah Mojorembun suka mendengarkan Radio MTA.

“Kelebihannya Radio MTA ini 24 jam nonstop. Warga di sini suka radio karena bisa diikuti sambil tiduran, sambil santai. Disambi wira-wiri isek krungu kuping (dibuat kesana kemari masih bisa didengarkan telinga),” jelasnya.

Menurut Jamingan, cara dakwah lewat radio mudah dijangkau masyarakat desa. “Lebih pas untuk warga seperti kita. Sayangnya Muhammadiyah belum punya media ini,” imbuhnya.

“Kehadiran” Radio MTA di rumah-rumah warga Muhammadiyah, bukan tanpa dampak. Salah satunya adalah berpindahnya beberapa warga Muhamamdiyah ke MTA. Seperti yang dituturkan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kradenan periode 2000-2005 M Sulaiman Teguh.

“Ketua MTA Kradenan sekarang ini, dulu anggota PCM. Sekarang malah jadi penggeraknya MTA,” ungkap mantan guru SMP Negeri 1 Kradenan ini, yang juga selalu turn ongelombang Radio MTA.

Wah, PR besar nich untuk Muhammadiyah! (Ria Eka Lestari)

 

2
213
M Sulaiman Teguh, selain membaca Suara Muhammadiyah, juga mendengarkan Radio MTA. (Ria Eka Lestari/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kebutuhan dakwah Muhammadiyah di kota dan desa ternyata berbeda. Meski sama-sama membutuhkan media elektronik, tapi jenis media yang dirasa efektif tidak sama.

Seperti yang dialami warga Muhammadiyah di Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan Menden, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Bendahara Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kradenan Menden Jamingan SAg mengaku warga Muhammadiyah di Mojorembun selalu mengikuti program radio Majelis Tafsir Al Quran (MTA).

“Kalau di sini ya patner. Antara Muhammadiyah dan MTA itu guyub. Asal baik ya kita ikuti,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (26/12/17).

Jamingan menyampaikan warga Muhammadiyah itu berwawasan luas sehingga terbuka dengan segala hal asalkan sesuai dengan Alquran dan Hadist.

“Nah MTA itu kan sama juga. Sesuai Al Quran dan Sunnah. Di radio itu menariknya karena MTA selalu mengkaji isi Alquran dan Sunnah itu,” ujarnya.

“Saya kalau mbaca terjemahan Alquran itu nggak paham. Lha kalau dengerin MTA itu baru paham. Karena tafsirnya per kata,” sambung dia.

Pria usia 58 tahun ini menjelaskan bahwa warga Muhammadiyah Mojorembun juga mengikuti TVMU (Televisi Muhammadiyah).

“Saya juga lihat TVMU. Tapi juga lihat MTA TV. Ada program yang tidak di TVMU tapi ada di MTA TV. Misalnya tanya jawab masalah sehari-hari dan belajar mengaji lengkap dengan tajwidnya. Kalau TVMU sekadar pengajian umum, jadi kurang detail,” paparnya.

Jamingan saat diwawancarai di rumahnya. (Ria Eka Lestari/PWMU.CO)

Kepada PWMU.CO, pria kelahiran 1959 itu menceritakan mengapa warga Muhammadiyah Mojorembun suka mendengarkan Radio MTA.

“Kelebihannya Radio MTA ini 24 jam nonstop. Warga di sini suka radio karena bisa diikuti sambil tiduran, sambil santai. Disambi wira-wiri isek krungu kuping (dibuat kesana kemari masih bisa didengarkan telinga),” jelasnya.

Menurut Jamingan, cara dakwah lewat radio mudah dijangkau masyarakat desa. “Lebih pas untuk warga seperti kita. Sayangnya Muhammadiyah belum punya media ini,” imbuhnya.

“Kehadiran” Radio MTA di rumah-rumah warga Muhammadiyah, bukan tanpa dampak. Salah satunya adalah berpindahnya beberapa warga Muhamamdiyah ke MTA. Seperti yang dituturkan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kradenan periode 2000-2005 M Sulaiman Teguh.

“Ketua MTA Kradenan sekarang ini, dulu anggota PCM. Sekarang malah jadi penggeraknya MTA,” ungkap mantan guru SMP Negeri 1 Kradenan ini, yang juga selalu turn ongelombang Radio MTA.

Wah, PR besar nich untuk Muhammadiyah! (Ria Eka Lestari).


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website